Moskow, (Tagar 12/7/2018) – Usai mencetak gol penentu kemenangan timnya, penyerang Mario Mandzukic mengatakan, Kroasia bermain seperti kawanan singa saat mengalahkan Inggris.

"Ini merupakan keajaiban. Hanya tim-tim hebat yang dapat seberani kami dan bangkit melawan dari tertinggal satu gol melawan tim-tim seperti Inggris," kata Mandzukic, setelah Kroasia menang 2-1 melalui perpanjangan waktu.

"Kami bermain dengan hati sepanjang turnamen. Saya senang dengan penampilan saya sejauh ini, namun saya berada di sini untuk tim. Kami seperti kawanan singa yang dilepas pada malam ini dan kami akan sama seperti itu di final,” ujar Mandzukic, yang timnya akan berhadapan dengan Prancis di final Minggu (15/7).

Sedangkan pelatih Zlatko Dalic yang ditunjuk untuk mengarsiteki Kroasia pada Oktober, beberapa hari sebelum pertandingan terakhir mereka di grup kualifikasi melawan Ukraina mengatakan masih banyak hal yang akan datang. Ketika kemudian bertemu Inggris, dia menyebut penampilan timnya sebagai fantasi.

"Kami layak berada di final," ucap Dalic. "Apa yang para pemain mainkan malam ini adalah fantasi, mereka telah mengukir sejarah. Kami belum mengatakan kata-kata terakhir kami, masih ada satu pertandingan lagi untuk dilalui. Jika Tuhan berkehendak, kami akan menjadi juara dunia."

Menyakitkan

Sementara itu, setelah kekalahan 1-2 melalui perpanjangan waktu yang mereka derita pada Rabu (11/7), penyerang Harry Kane mengatakan, kekalahan Inggris dari Kroasia di semifinal Piala Dunia akan menyakitkan untuk kurun waktu yang lama.

"Ini berat, kami patah hati," ucapnya. "Kami bekerja begitu keras, para penggemar luar biasa, ini pertandingan berat, pertandingan 50-50, ketika kami melihat ke belakang kami akan berpikir hal-hal yang semestinya dapat kami lakukan dengan lebih baik."

"Kami bekerja sekeras mungkin... ini menyakitkan, ini sangat menyakitkan, dan ini akan menyakitkan untuk kurun waktu yang lama. Kami menjalani perjalanan fantastis, lebih jauh dari pada yang kami pikirkan," imbuhnya.

"Kami menciptakan beberapa peluang bagus ketika kami memimpin 1-0, mungkin kami turun sedikit terlalu dalam namun kami tidak melakukan cukup tekanan terhadap bola. Ada banyak jika dan tapi, pada pertandingan-pertandingan seperti ini itu adalah marjin yang kecil."

"Sulit untuk mengatakan (apa yang salah). Ada banyak hal yang dapat kami lakukan dengan lebih baik. Mereka bermain baik dan menyulitkan kami... Sulit untuk meletakkan jari Anda pada hal itu."

"Rasanya menyenangkan untuk berada di fase ini namun kami sedikit terjatuh dan itu menyakitkan,” ujarnya.

Bayar Mahal

Inggris mengawali pertandingan dengan bagus ketika Trippier melepaskan tendangan bebas melengkung yang masuk ke sudut atas gawang.

Inggris, yang tampil di semifinal untuk pertama kalinya sejak 1990, terlihat berada di jalur menuju final pertama mereka sejak 1966 ketika membuka keunggulan melalui tendangan bebas Kieran Trippier pada menit kelima dan mereka benar-benar mendominasi permainan pada babak pertama.

Itu merupakan gol pertama Tripper untuk negaranya, gol ke-12 Inggris di turnamen ini, dan gol kesembilan dari bola mati. Mereka semestinya dapat menambahi gol dari permainan terbuka ketika mereka menguasai ruang-ruang yang ada pada babak pertama.

Tembakan lemah Harry Kane tertuju kepada Danijel Subasic dan kemudian melaju, kemudian membentur tiang gawang, dan Raheem Sterling menyiksa pertahanan Kroasia. Namun lagi-lagi bola terakhirnya terlalu sering tidak menghasilkan apa-apa.

Peluang terbaik untuk mengemas gol kedua, disia-siakan oleh Jesse Lingard yang tidak terkawal ketika dia melepaskan sepakan melebar saat gawang lawan terbuka lebar.

Kroasia, yang berada di semifinal untuk pertama kalinya sejak 1998, menyamakan kedudukan melalui Ivan Perisic pada menit ke-68, kemudian terlihat sebagai tim yang lebih berbahaya.

Kedudukan tetap imbang setelah pertandingan berlangsung 90 menit, membuat Kroasia menghadapi perpanjangan waktu untuk ketiga kalinya secara beruntun. Sebelumnya mereka menyingkirkan Denmark dan Rusia melalui adu penalti.

Namun ketika mereka terlihat akan menjadi tim pertama yang memainkan tiga adu penalti pada satu ajang Piala Dunia, Mandzukic mengemas gol melalui tembakan mendatar.

Setelah sempat kesulitan mengatasi gempuran Inggris, Kroasia mulai mampu menemukan genggamannya di pertandingan ini seiring berjalannya laga saat melewati menit ke-60 dan pengaruh Luka Modric makin membesar.

Inggris harus membayar harga mahal untuk kegagalannya memanfaatkan sejumlah peluang, ketika Perisic memperlihatkan determinasi hebatnya untuk dapat berada di depan Kyle Walker dan menyambar umpan silang Sime Vrsaljko. Dan, meski dia terlihat mengangkat kaki terlalu tinggi, Walker tetap berusaha menyundulnya, dan terdapat beberapa protes.

Perisic semestinya dapat menambahi gol lainnya tiga menit kemudian ketika pertahanan yang rapuh membuat dia mendapat peluang menembakkan bola. Sayang, sepakannya membentur tiang gawang.

Dari sana jalannya pertandingan berubah. Kroasia tiba-tiba bermain dengan akurat dan jitu ketika Inggris kehilangan bentuk dan ketenangan mereka, di mana Kane membuang peluang untuk memenanginya pada fase akhir waktu normal ketika ia menanduk bola melebar dari tendangan bebas.

Vrsaljko menyapu bola sundulan John Stones sebelum melewati garis gawang pada pertengahan perpanjangan waktu pertama.

Namun justru Kroasia yang mengemas gol pada menit ke-109, ketika Perisic menyundul bola di tepi kotak penalti dan bola jatuh kepada Mario Mandzukic, yang sepakan mendatarnya tidak dapat diantisipasi Pickford. (yps)